Manusia Pembawa Tetes

Facebook
Twitter
WhatsApp
foto by FB I Wayan Westa
oleh I Wayan Westa, Pekerja Kebudayaan – kelirbali.com  Hidup   berawal dari AIR, begitu kata seorang mistikus. Benar,  dari jutaan benih yang diteteskan ayah ke liang  ibu, hanya ada satu tetes yang paling kuat. Jagoan dan pemenang itulah  yang menjadikan kita hadir  ke bumi membawa serta tetes bawahan ayah. 
 
Tetes yang paling kuat itu bertemu sel telur ibu. Begitulah tetes itu kemudian disebut dengan kama. Ibu membawa kama bang (berwarna merah). Bapa membawa kama petak, berwarna putih. Intinya dua-duanya adalah air. Air-lah sumber hidup pertama  semua makhluk. Orang-orang Barat menyebutnya sebagai abrosia — artinya  yang mengatasi kematian. Teks-teks Bali menyebutnya sebagai amrta, artinya ia yang tak pernah mati. Dari sini kemudian lahir istilah-istilah mistis untuk air sebagai oase penghidup.  Karenanya juga  disebut amrta sanjiwani, amrta kamandalu, termasuk amrtakundalini —   semua ini merujuk  pengertian air kehidupan.
 
Manusia sesungguhnya adalah sang pembawa tetes. Tetes mistis itu bernama  nada. Maka tak salah simbol nada dalam Ongkara itu juga berwujud tetes. Air mistis yang meniupkan roh hidup saat pertama tetes bapa dan ibu kita bertemu. Karena hidup dimulai dari tetes air, maka manusia yang hidup juga diyakini sebagai pembawa sungai. Ada banyak sungai mistis di dalam tubuh manusia. Yang paling terkenal adalang sungai Tri Nadi. Para peyoga menyebutnya sebagai ida-sumsuma-pinggala. Tiga sungai ini mengalir ke samudra mistis tubuh. Demikian ada penamaan mistis tujuh samudra di tubuh. Setidaknya begitu teks Jnanasiddhanta menuliskan.
 
Tapi tidak cuma air di dalam diri yang banyak disebut-sebut teks. Untuk menyebut Tuhan sebagai Mahakeberadaan, air menjadi kunci penting menunjuk keberadaan itu. Selain disebut tirtha, ia juga disebut TOYA [to -ya] dimaknai untuk menyebut keberadaan Tuhan — yang artinya: Itulah Dia.
 
Terimakasih pada tetes hidup yang terus mengalir. Pada tubuh dan pikiran yang senantias segar. Pada kawan dan lawan yang selalu mengingatkan. Pada ibu dan ayah yang menitipkann tetes pertama untuk hidup.den

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kabar Terkini

Vanitas Seharga Satu Meliar

Vanitas telah menjadi semacam “ critic symbolism”, kritik tanpa narasi di mana…

Mutilasi Linggis, Sebuah Kehancuran Jati Diri

Putrayasa sendiri melihat ‘Dunia dalam harmony’ masih jauh dari harapan. Sangat jauh.…

Menengok dari Dekat Patoyan Taman Tjampuhan, Lovina

“Itulah jalan yang saya pilih, merawat alam dengan hati riang. Dan hasilnya…

Gagasan Manusia dan Semua Manusia adalah Seniman

“Manusia tidak bisa memadamkan api seni, jiwa seniman, memadamkan seni akan menghancurkan…

Kita dan Ketersesakan Rasa Ruang

secara sengaja tindakan telah merendahkan hati kita di hadapan kosmos. Keindahan diciptakan…