SENTIL DALANG – kelirbali.com
oleh Denara – penulis jalanan. Pemilu usai. Tinggal penetapan suara nasional dan menunggu saat pelantikan Presiden dan Anggota DPR dan DPR terpilih. Pemenang Pileg bergembira, yang kalah sibuk mencari alasan. Hal ini termasuk Partai Golkar yang di posisi galau, agak jauh dari terpuruk.
Kendari Cawapresnya Gibran Rakabuming Raka yang mendadak mendapat bernaung VIP di pohon beringin, pada Pileg Partai Golkar tidak mendapati hasil yang memuaskan. Sempat ada slogan Golkar Reborn, seiring perjalanan waktu; kendor. Saat Pileg hasilnya tidak beranjak dari Pileg sebelumnya. Kalau tidak naik satu, turun satu. Kondisi ini terjadi merata di setiap provinsi.
Selama Pileg, kader Partai Golkar yang bertarung di Pileg masih menggunakan pola-pola lama, pola tradisional dan gagap menangkap dinamika perubahan pola pikir masyarakat yang semakin pintar menyiasati Pemilu; pragmatisme. Turun dengan langkah kaki idealisme, menjual gagasan, ide dan warga dibuat terkesima – untuk sesaat.
Celakanya, begitu Caleg pulang, kader dari partai lain menjanjikan segepok uang untuk memilihnya. Maka pragmatisme muncul. Paparan ide atau gagasan yang tadi didengar antusiasme, rontok seketika. Masyarakat lebih memihak urusan perut. Apalagi tiga suara kali Rp 300.000. Belum lagi pihak partai lain membawa bantuan hibah yang nilainya fantastis plus serangan fajar yang masif.
Bisa dilihat dari perolehan kursi di masing-masing kabupaten di Bali, Jembrana meraih 5 kursi, Tabanan 4 kursi, Denpasar 7 kursi, Badung 11 kursi, Bangli 5 kursi, Gianyar 5 kursi, Klungkung 3 kursi, Karangasem 8 kursi dan Buleleng 11 kursi. Dari perolehan ini hanya Kabupaten badung yang kursinya naik drastis, dari 7 menjadi 11. Selebihnya stagnan, naik satu atau turun satu.
Kendati perolehan kursi di DPR RI naik signifikan, hal ini tidak lantas membuat kader atau caleg yang duduk di kursi DPRD Kabupaten/Kota bisa bernapas lega. Pasalnya beberapa bulan lagi akan dilaksanakan Pilkada serentak.
Nah, dalam Pilkada nanti, Fraksi Partai Golkar yang tidak memenuhi 20% ambang batas pencalonan mesti memikirkan strategi lagi untuk koalisi. Energi yang sudah dihabiskan di Pileg, kini digunakan lagi untuk memikirkan koalisi. Apalagi kalau koalisi tersebut tidak gratis.
Selain tidak percaya diri menghadapi Pilkada, partai Golkar sendiri di beberapa kabupaten masih kesulitan mencari tokoh untuk diusung ke posisi calon bupati. Yang artinya, selain tidak pede maju Pilkada karena ambang batas 20% pencalonan, juga masih meraba-raba siapa yang akan diusung. Termasuk mengusung siapa calon yang memiliki amunisi di tengah pragmatisme masyarakat saat pileg lalu.
Buruknya lagi, kondisi ini dimanfaatkan oleh kader Golkar yang duduk di DPP untuk jualan rekomendasi. Dari amatan kelirbali.com langkah ini nampaknya sudah mulai digerakkan, dengan menjual rekomendasi kepada yang memiliki amunisi bagi yang ambisi maju Pilkada.
Kondisi ini tentunya memperburuk citra partai yang sudah menjadi rahasia umum, bahwa Golkar yang tidak percaya diri maju dan isu jualan rekomendasi kepada calon bupati terus berembus. Tidak peduli bakal calonnya menang atau kalah, yang penting jualan rekomendasi.
Golkar reborn, tentu hanya isapan jempol belaka. Bahkan Nyapres saja tidak percaya diri. Sehingga pasca runtuhnya kekuatan Golkar pasca Reformasi, Golkar lebih memilih berada di dekat kekuasaan. Tentu kenyamanan di dapat, namun kembali lagi, kader partai di tingkat kabupaten dengan nafas berat untuk memenangi Pilkada.
Slogan Golkar menang rakyat senang tentu sudah dilupakan masyarakat. Yang tertinggal hanyalah Golkar dengan pohon beringinnya, dimana dahan-rantingnya sudah mulai dipangkas perlahan, baik dari internal dan eksternal. Mau reborn?
Partai tetangga sudah siapin rekomendasi lhoo…!