RUMPI WAYANG – kelirbali.com
Oleh Gede S Putra. Sebuah linggis terpotong-potong dan setiap potongan di tempatkan pada sebuah meja. Satu ujung belum terpotong, menunggu tangan emas untuk memotong dan darah merah sudah mengalir, beku. Bagi mata awam, terlihat sederhana. Sangat sederhana. Pun potongan linggis tersebut terlihat seperti besi bekas bangunan yang dicuci bersih dan tampil menghiasi meja. Namun ketika sebuah gunting dan ada darah mengental menempel pada linggis pada potongan berikutnya, kita mulai terhenyak. Ada apa?
Mutilasi Linggis sebagai kritik bahwa jati diri manusia sudah rapuh termutilasi
Kenapa harus linggis?
Seniman atau lebih disebut perupa I Ketut Putrayasa pada pameran seni instalasi Arts-5 Dimension of Change di Nuanu, Badung, 22 Maret 2025, pada pameran instalasi, mengejutkan pengunjung. Linggis. Bila pandangan mulai awas, dari ujung ke ujung maka pesan yang disampaikan Putrayasa cukup mendalam, sebagai outo kritik dan kritik sosial yang syarat makna.
Manusia secara individu sosial selalu berkehendak ‘harmony’ dengan alam dan terutama dengan sesamanya. Putrayasa sendiri melihat cita-cita atau harmony yang ingin diwujudkan manusia selalu menemukan kegagalan. Kegagalan ini tentu dipicu oleh manusia itu sendiri, semangat yang menggebu biasanya hanya datang dari mulut. Pengaruh-pengaruh eksternal memengaruhi manusia, sebutlah kapitalistik, konsumtif kemewahan berlebihan. Yang sesungguhnya semakin tinggi tingkat konsumtif semakin menguntungkan bagi kapitalistik.
Kenapa harus Linggis?
Putrayasa menilai di setiap rumah tangga di Bali, umum terdapat sebatang linggis. Yang paling tidak digunakan sekali dalam enam bulan utuk melubangi tanah buat memajang penjor saat hari Raya Galungan. Linggis itu kuat, salah satu ujungnya pipih tajam, dan satu ujungnya bercagak. Masing-masing ujung memiliki fungsi, satunya untuk melubangi dan satunya untuk mencabut paku yang tertancap di kayu. Linggis pula sebagai tuas untuk mengungkit sesuatu yang berat. Ketika linggis terpotong-potong, termutilasi maka potongan tersebut tidak lebih sebagai barang rongsokan. Sudah tidak bermakna kecuali difungsikan sebagai benda lain dengan membakar ulang dan menjadikan bentuk baru.
Linggis pada manusia baik individu dan sosial adalah pertahanan terkuat yang mesti dimiliki. Linggis pada manusia adalah jati diri kesadaran. Sekali saja jati diri termutilasi, maka sebagai manusia yang ingin mewujudkan harmony akan gagal. Putrayasa sendiri melihat ‘Dunia dalam harmony’ masih jauh dari harapan. Sangat jauh. Kegagalan ini dipicu oleh kenyataan bahwa tidak individu sudah rapuh akan jati diri. “Bila pertahanan terkuat, jati diri di dalam jiwa sudah rapuh, termutilasi, maka apa pun dicita-citakan akan hancur.” Pun ketika jiwa-jiwa yang rapuh itu di satukan, hasilnya tetap barang rapuh, tanpa makna. Gejala sosial ini terjadi di masyarakat pada umumnya. Maka dengan setetes hujan, semuanya hancur. Dengan embusan angin di pagi hari, harmony manusia hancur. Jati diri yang rapuh, termutilasi.(Den)