SENTIL DALANG – kelirbali.com
Oleh Denara – penulis jalanan. Sampai saat ini Pulau Nusa Penida dengan kehidupannya terus berjalan apa adanya. Bisa disebut tidak ada perubahan signifikan bila melihat rasio indeks pembangunan dasar. Krisis air bersih sejak dahulu, kasus stunting tertinggi, sarana dan prasara pendidikan dasar sekadarnya dan berbagai persoalan lain.
Lompatan lain yang terjadi adalah sektor pariwisata yang dipaksa maju di tengah belum maksimalnya standar dasar hidup layak. Bisa dilihat pembangunan di sana sejak sekitar 25 tahun silam. Kepulauan Nusa Penida sering disuguhkan hidangan proyek baik dari pemerintah pusat, provinsi dan dari penguasa Klungkung sendiri. Aneka proyek yang membawa angin segar ini terus berulang, namun berselang beberapa waktu, proyek tersebut menguap. Lalu datang lagi proyek baru, menguap lagi.
Kunjungan dari beberapa Kementerian juga datang silih berganti. Kedatangannya disambut budaya khas Nusa Penida, dari kuliner Ledok sampai kain Rangrang. Persoalan purba seperti krisis air, infrastruktur rusak ditanggalkan dulu, demi citra. Sekembalinya pejabat pusat dari Nusa Penida, masalah purba muncul lagi.
Sebutan untuk Kepulauan Nusa Penida, (Nusa Gede, Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan) Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung demikian beragam. Sangat sarat menyandang nama. Pulau Nusa Penida predikat nasional, yakni sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), salah satu Pulau Terluar, Kawasan Konservasi Perairan (KKP), Pusat Pembibitan Sapi Bali, dan Kawasan Wisata Pengembangan Energi Terbarukan. Sarat dengan sebutan, namun miskin dalam pelaksanaan.
Berbagai proyek juga didatangkan ke Nusa Penida. Salah satu proyek yang mendebarkan warga adalah Pembangkit Listrik Tenaga Bayu. Tidak kurang dari 7 tiang besi berdiri di Puncak Mundi. Harapannya sangat besar, listrik buat warga Nusa Penida teratasi. Namun saat ini yang tertinggal adalah besi berkarat tanpa listrik.
Proyek lain yang datang adalah penanaman sejuta pohon jarak. Karena lahannya kering tandus, dianggap pohon jarak bisa tumbuh. Di mana buah jarak kering diperas dan akan menghasilkan bio diesel. Kenyataannya, pohon-pohon jarak tersebut sudah ditebang. Saat berbuah lebat, tidak ada satu pun pabrik yang memanfaatkan buah jarak tersebut. Gagal lagi.
Lalu sejumlah proyek juga ditawarkan. Seperti halnya Jalan Lingkar Nusa Penida. Jangankan satu kilo, satu meter pun tidak terwujud. Sedangkan perencanaannya hanya memenuhi rak buku dan tetap menjadi mimpi. Mimpi lain yang masih jauh dan mendapat penolakan adalah mewujudkan Kasino di Nusa Penida.
Tidak kalah lagi, diembuskan proyek Air Bersih, Proyek Pengelolaan Sampah. Semuanya hanya macan kertas, yang dalam istilah lain adalah Kebudayaan di Atas kertas Budaya, sebagai pemuas sang perencana untuk mendapat legitimasi akademis. Pun diuji coba berbagai proyek pertanian strategis, dari Tanam Padi lahan kering, tanam jagung dan komoditi lain. Kelinci Percobaan?
Nah terakhir di Tahun 2024 ini datang lagi mimpi baru dan terbarukan. Peran strategis Nusa Penida tersebut dapat didorong sebagai pilot project atau percontohan penyediaan listrik bertenaga energi terbarukan untuk memasok seluruh kebutuhan listrik secara mandiri. Mendukung inisiatif tersebut, IESR bekerjasama dengan CORE Universitas Udayana melakukan analisis potensi energi terbarukan (ET) di Nusa Penida yang dapat dikembangkan. Berdasarkan hasil analisis tersebut, potensi ET di Nusa Penida meliputi PLTS atap senilai lebih dari 10,9 MWp, PLTD biodiesel (tanaman jarak dan rumput laut) lebih dari 2 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) ukuran kecil, serta Pump Hydro Energy Storage (PHES) yang mampu mencapai lebih dari 120 MW.
Selain dari energi terbarukan, potensi energi di Nusa Penida juga dapat memanfaatkan limbah (Waste to Energy/WtE) sebesar 700 kW. Hasil dari analisis dan kajian ini dapat didorong dan diharapkan dapat menjadi cetak biru pengembangan pulau berbasis energi terbarukan dan menjadi bagian dari peta jalan Bali NZE 2045.
Ibaratnya tubuh kelinci yang dijadikan percobaan, tubuh Nusa Penida dimutilasi, diacak-acak sehingga bentuknya menjadi tidak karuan. Bisa jadi karena terlalu jinak, sangat mudah untuk dijadikan kelinci percobaan.
Di balik kondisi yang ditawarkan, sesungguhnya persoalan dasar di Nusa Penida belum terselesaikan. Pertama adalah soal air bersih. Air bersih di Nusa Penida adalah adalah persoalan purba yang sampai saat ini belum tertuntaskan. Bila datang ke pelosok saat musim kemarau, dengan acak bisa bertanya kepada petani, bahwa mereka menjual sapi untuk beli air. Sehingga ada istilah Sapi minum Sapi. Produktifitas petani di Nusa Penida menjadi menurun, guna menghidupi dirinya sendiri. Sapi yang dipelihara ibarat tabungan air, sehingga kebutuhan pokok lain terabaikan.
Persoalan lain yang tidak kalah pentingnya, sarana dan prasarana pendidikan di Nusa Penida seakan termarjinalkan. Bisa jadi Pemkab sengaja menutupi kondisi tersebut, bahwa masih banyak sarana pendidikan yang kondisinya menyedihkan. Lalu, untuk apa membawa proyek prestisius, bila persoalan dasar warga Nusa Penida yang berjumlah sekitar 52.000 warga tidak terselesaikan.
Yang paling miris adalah angkutan barang ke Nusa Penida. Bisa dilihat di pelabuhan yang ada di Desa Kusamba. Betapa primitif nya pola pikir pemerintah daerah menangani persoalan angkutan ini. Sangat primitif. Pasir-pasir dimasukkan ke dalam karung, lalu dipikul naik sampan. Begitu juga dengan bahan bangunan lain. Apalagi kebutuhan lain seperti beras, air kemasan dan makanan pokok lainnya.
Mengapa tidak terpikir pengadaan barge atai ponton. Di Indonesia sendiri masih ada ratusan ribu barge atau ponton yang menganggur, atau kepala pejabat memang suka menganggur.
Alih-alih menuju tahapan kemajuan pariwisata dengan berbagai istilahnya, bila persoalan dasar tersebut tidak diselesaikan, sampai kapan pun Nusa Penida akan menjadi tempat kelinci percobaan.
Terlalu jinak, teriaklah sesekali. Tuntut air bersih, tuntut kapal ponton, tuntut sarana pendidikan yang memadai.